
Kita sering menuduh media sosial sebagai biang kerok dari hancurnya kesehatan mental, kecemasan, dan kesepian akut yang dialami anak muda hari ini. Tapi mari kita jujur, khusus di Sumatera Barat, algoritma TikTok atau Instagram itu tidak ada apa-apanya. Pengaruh paling merusak, paling mengintimidasi, dan paling membuat anak muda merasa terisolasi justru lahir dari sebuah institusi sosial tak kasat mata bernama Kecek Urang atau Kata Orang. Media sosial hanyalah alat baru, sedangkan Kecek Urang adalah penguasa mutlak yang sudah ratusan tahun mendikte psikologis masyarakat kita. Jika di luar sana netizen merasa cemas karena melihat gaya hidup mewah para pembuat konten, anak muda Minang mengalami kecemasan yang jauh lebih purba: ketakutan setengah mati dicap gagal oleh komunitas, kaum, dan tetangga sebelah rumah.

Dampaknya sangat nyata. Insight atau tren yang didapat dari media sosial itu sifatnya fana kamu bisa menutup aplikasi, menghapus akun, dan pelarian selesai. Namun, kamu tidak bisa menghapus diri dari silsilah keluarga besar atau keluar dari lingkaran adat. Ketika seorang anak muda di perantauan sedang berdarah-darah mempertahankan hidup, tekanan terbesar mereka bukan karena melihat teman kuliahnya beli mobil baru di Instagram, melainkan bayang-bayang gunjingan di lapau kopi kampung halaman jika mereka pulang tanpa membawa keberhasilan. Kecek Urang memiliki daya hancur yang jauh lebih masif karena ia menyerang marwah, harga diri, dan posisi sosial seseorang di dalam kaumnya. Akibatnya, demi membungkam mulut orang-orang di dunia nyata, anak muda dipaksa menggunakan media sosial sebagai benteng pertahanan palsu. Mereka memamerkan pencapaian yang dipaksakan di dunia maya, hanya agar tidak menjadi bahan gunjingan di grup WhatsApp keluarga.

Inilah yang memicu krisis kesepian dewasa atau adult loneliness yang paling mengerikan di ranah Minang. Banyak anak muda yang akhirnya memilih memutus kontak, tidak pulang bertahun-tahun, dan menarik diri dari lingkungan bukan karena mereka benci kampung halamannya, tapi karena mereka lelah menghidupi ekspektasi sosial yang menghakimi. Mereka kesepian di tengah keramaian, karena sadar tidak punya ruang aman untuk menjadi manusia yang gagal atau sedang berproses. Mereka tidak takut pada kerasnya dunia digital, mereka hanya lelah pada penghakiman sosial yang dibungkus dengan kalimat “peduli”. Sudah saatnya kita sadar bahwa menjaga keharmonisan adat tidak harus dibayar dengan mengorbankan kewarasan mental generasi mudanya. Karena pada akhirnya, hidupmu adalah milikmu, bukan draf komentar untuk memuaskan bibir urang banyak.



