
Sampai hari ini, banyak orang masih mencampuradukkan Prabowo dengan Gibran seolah keduanya adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Padahal sebagian besar kontroversi yang memicu penolakan publik justru berpusat pada Gibran dan lingkaran politik Jokowi.
Polemik perubahan syarat usia calon wakil presiden, tuduhan politik dinasti, perdebatan mengenai kapasitas dan pengalaman Gibran, hingga berbagai kontroversi yang melekat pada keluarga Jokowi menjadi bahan kritik yang terus berulang. Banyak yang menilai proses tersebut telah merusak kepercayaan publik terhadap demokrasi. Itu hak setiap warga negara untuk menilai dan mengkritik.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang dijawab secara jujur. Jika kemarahan itu ditujukan kepada Gibran dan Jokowi, mengapa Prabowo yang terus menjadi sasaran utama?
Sejak awal pemerintahan, muncul tuduhan bahwa Prabowo hanyalah presiden formal yang dikendalikan oleh Jokowi dan Gibran dari belakang layar. Narasi ini terus disebarkan seolah sudah menjadi fakta. Padahal jika ditelaah lebih jauh, tuduhan tersebut justru bertentangan dengan rekam jejak Prabowo sendiri.
Prabowo bukan tokoh yang lahir dari politik kemarin sore. Ia memiliki pengalaman militer, pengalaman organisasi, pengalaman pemerintahan, dan pengalaman politik yang terbentuk selama puluhan tahun. Ia pernah menjadi lawan politik Jokowi dalam dua pemilihan presiden yang keras dan penuh pertarungan. Pertanyaannya sederhana, apakah sosok dengan pengalaman sebesar itu begitu mudah dikendalikan oleh siapa pun?
Justru semakin waktu berjalan, publik mulai melihat bahwa banyak keputusan dan arah kebijakan menunjukkan karakter kepemimpinan Prabowo sendiri. Karena itu tuduhan bahwa dirinya hanya menjalankan perintah pihak lain semakin sulit dibuktikan.
Di sinilah objektivitas diuji. Kritiklah Prabowo jika kebijakannya salah. Kritiklah jika janji politiknya tidak ditepati. Kritiklah jika rakyat dirugikan oleh keputusan pemerintah. Tetapi jangan menghukum Prabowo hanya karena tidak menyukai Gibran.
Pada akhirnya sejarah tidak akan menilai Prabowo dari siapa wakil presidennya. Sejarah akan menilai hasil kerjanya. Jika gagal, kritiklah dengan tegas. Jika berhasil, akuilah dengan jujur. Sebab kebencian tidak pernah melahirkan penilaian yang adil, dan demokrasi yang sehat membutuhkan akal sehat, bukan sekadar emosi politik.


