
Mundurnya Arisal Aziz atau yang lebih dikenal dengan Josal dari posisi Ketua DPW PAN Sumatera Barat memunculkan banyak pertanyaan di tengah publik. Sebagian langsung mengaitkannya dengan kondisi partai, sebagian lagi mencoba menilai dari sisi kepemimpinannya. Namun pertanyaan yang paling menarik justru bukan apakah Josal gagal membesarkan PAN di Sumbar, melainkan apakah PAN sendiri sudah terlalu berat untuk diangkat karena beban citra yang telah terbentuk sebelumnya. Sebab jika berbicara soal figur, Josal bukanlah tokoh yang datang tanpa modal. Ia dikenal luas masyarakat, memiliki jaringan yang kuat, serta berhasil membangun kedekatan dengan berbagai kelompok masyarakat di Sumatera Barat. Popularitas pribadinya tidak pernah menjadi persoalan utama. Justru yang perlu dibahas adalah bagaimana seorang figur populer harus bekerja keras membawa nama sebuah partai yang dalam beberapa momentum penting sempat mendapat sorotan negatif dari publik.


Masyarakat Sumatera Barat tentu masih mengingat dua peristiwa yang pernah menjadi perbincangan luas saat bencana melanda daerah ini. Peristiwa pertama adalah ketika Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, tampil memikul karung beras dalam kegiatan penyaluran bantuan. Terlepas dari niat membantu yang tentu patut diapresiasi, reaksi publik saat itu tidak sepenuhnya berbicara tentang bantuan yang diberikan. Yang ramai justru perdebatan mengenai cara bantuan tersebut ditampilkan ke publik. Banyak yang menilai momen itu lebih menonjolkan simbol politik daripada empati kepada korban bencana. Peristiwa kedua terjadi ketika Verrell Bramasta mengunjungi lokasi bencana di Sumbar dengan mengenakan rompi taktis yang kemudian menjadi bahan perbincangan netizen. Fokus publik kembali bergeser. Bantuan yang dibawa tidak lagi menjadi topik utama. Yang ramai justru penampilan dan atribut yang dikenakan di tengah situasi duka masyarakat.





Dua peristiwa yang berbeda itu memiliki satu kesamaan. Publik tidak banyak membahas substansi bantuan yang diberikan, tetapi lebih sibuk membahas kesan yang ditangkap dari penampilan dan cara komunikasi politik yang ditampilkan. Di sinilah persoalan sebenarnya. Dalam politik modern, persepsi sering kali lebih menentukan daripada niat. Ketika masyarakat berulang kali menangkap kesan yang sama, maka dampaknya tidak berhenti pada individu yang menjadi sorotan. Dampaknya melekat pada partai yang mereka wakili. Karena itu, ketika berbicara tentang mundurnya Josal, mungkin terlalu sederhana jika langsung menyimpulkan bahwa ia gagal membesarkan PAN di Sumbar. Bisa jadi persoalannya jauh lebih besar dari itu. Bisa jadi Josal sedang berusaha mengangkat sebuah partai yang telah lebih dulu memikul beban persepsi publik akibat sejumlah kontroversi yang masih diingat masyarakat. Sebab sekuat apa pun figur yang dimiliki sebuah partai, akan sulit membangun kepercayaan publik jika citra partai tersebut terus dibayangi oleh kesan yang belum sepenuhnya pulih. Dan jika ada pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini, maka pelajaran itu adalah bahwa membangun partai politik tidak cukup hanya dengan menghadirkan tokoh yang populer. Partai juga harus mampu menjaga setiap tindakan dan setiap pesan yang disampaikan kepada publik. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menilai siapa yang memimpin partai, tetapi juga bagaimana partai itu hadir dan dipersepsikan di tengah rakyatnya.


