
Sepertinya kita sedang mengidap penyakit “amnesia moral” yang akut. Pesisir Selatan kembali riuh. Bukan karena jumlah wisatawan yang membeludak membawa kesejahteraan, tapi karena sebuah bangunan bernama Klenteng yang kini jadi sasaran kemarahan. Lucunya, kemarahan kita seringkali salah alamat dan telat datang.
Mari kita putar ingatan sedikit ke belakang. Masih ingatkah kita dengan polemik Pulau Cubadak bertahun-tahun lalu? Saat itu, desas-desus tentang aktivitas wisatawan asing yang jauh dari norma adat dan agama kita. “Maksiat,”. Tapi apa yang terjadi? Kita cenderung diam, atau mungkin hanya berbisik di pojok lapau. Ekonomi wisata jadi alasan untuk memaklumi segalanya. Atas nama devisa, kita tutup mata pada perilaku yang benar-benar melanggar nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.


Namun hari ini, saat sebuah bangunan tempat ibadah berdiri yang secara hakikat adalah tempat orang berkomunikasi dengan Tuhannya, tempat orang mencari ketenangan spiritual kita mendadak jadi pahlawan kesiangan. Kita ribut seolah-olah pondasi daerah ini akan runtuh hanya karena ada sebuah rumah ibadah di kawasan wisata.
Logikanya di mana?

Pesisir Selatan, khususnya Mandeh, sedang bertransformasi menjadi destinasi kelas dunia. Dunia sedang menonton kita. Jika hari ini kita ribut hanya karena masalah rumah ibadah sementara selama ini kita diam saat moralitas wisata kita digerus pelan-pelan oleh gaya hidup bebas, maka perlu di tanya ke diri sendiri Masih punyakah kita rasa malu?
Berhentilah menjadi hakim yang standarnya ganda. Jika kita ingin Mandeh maju, benahi mentalitas kita. Jika ada yang salah dengan prosedur, perbaiki dengan cara yang beradab. Jangan sampai energi kita habis untuk mengotak atik bangunan ibadah, sementara kita lupa membangun ekonomi rakyat yang masih terpuruk.
Jangan biarkan ego sesaat menghancurkan masa depan wisata Pessel. Mari kembali ke filosofi Raso jo Pareso. Gunakan akal sehat, bukan sekadar urat leher.
Bagaimana menurut sanak? Apakah kita memang lebih takut pada bangunan ibadah daripada aktivitas maksiat yang nyata?

