
Heboh angka 3 dan 6 seolah menjadi kesimpulan tentang posisi Sumatera Barat hari ini. Padahal, kalau kita bicara data yang utuh, gambarnya jauh lebih besar dari sekadar angka yang gebos2kan itu.
Di Sumatera Barat terdapat sekitar 124 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Ini bukan angka kecil Ini menunjukkan bahwa Sumbar memiliki kepadatan institusi pendidikan tinggi yang signifikan di Pulau Sumatera.
Dari sisi kapasitas akademik, kampus-kampus utamanya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Universitas Andalas memiliki sekitar 15 fakultas dengan spektrum keilmuan luas, dari kesehatan hingga teknik. Sementara Universitas Negeri Padang memiliki sekitar 9 fakultas yang menjadi tulang punggung pendidikan dan pencetak tenaga pendidik. Ini belum termasuk kampus lain seperti UIN, ISI, politeknik, dan puluhan perguruan tinggi swasta yang memperkuat ekosistem. Artinya, Sumbar bukan hanya banyak secara jumlah, tapi juga dalam kedalaman bidang ilmu.
Dari sisi mahasiswa, jumlahnya mencapai lebih dari 224 ribu orang yang tersebar di seluruh perguruan tinggi. Bahkan, Universitas Negeri Padang menampung sekitar 40 ribu mahasiswa, dan Universitas Andalas sekitar 32 ribu mahasiswa.
Yang sering luput, sebagian mahasiswa tersebut berasal dari luar daerah. Ini menunjukkan bahwa Sumbar bukan hanya mendidik warganya sendiri, tapi juga menjadi tujuan pendidikan regional.
Jadi persoalannya bukan pada angka 3 atau 6. Persoalannya adalah, apakah kita menilai dari potongan data, atau dari struktur yang benar-benar bekerja. Selama kampus tetap hidup, mahasiswa terus berdatangan, dan tradisi intelektual masih berjalan, maka Sumatera Barat masih berdiri sebagai pusat pendidikan dan sektor ini adalah aset yang dibiarkan!


