
Hari ini kita gelisah melihat remaja putri keluar rumah dengan celana pendek. Kita ini siapa? Ayah? Mamak? Abang? Pemuda kampung?
Di Sumatera Barat, kita bangga dengan falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Kita bangga menyebut diri masyarakat yang berpijak pada nilai yang bersumber dari Al-Qur’an. Tapi kenapa aurat mulai dianggap biasa untuk dipertontonkan, kita hanya jadi penonton?
Jangan salahkan anak kalau rumahnya longgar.Jangan salahkan kemenakan kalau mamaknya diam.
Jangan salahkan saudari kalau abangnya sibuk dengan urusan sendiri. Remaja putri hari ini sedang mencari identitas. Mereka ingin diakui. Mereka ingin merasa cantik. Mereka ingin diterima.
Kalau validasi itu tidak mereka dapat dari ayahnya, mereka akan mencarinya di luar. Kalau rasa dihargai tidak datang dari keluarga, mereka akan mengejarnya dari sorotan orang lain.
Dan kita baru ribut ketika hasilnya tidak kita suka.
Menutup aurat bukan sekadar soal kain. Ini soal harga diri. Ini soal bagaimana seorang perempuan memandang tubuhnya apakah sebagai amanah atau sebagai alat untuk mendapat perhatian.
Tugas pria dewasa bukan berteriak di luar. Tugas kita adalah membangun benteng dari dalam. Duduklah dengan anakmu. Dengarkan alasannya. Jangan langsung menghakimi.
Bangun harga dirinya. Puji kecerdasannya. Apresiasi prestasinya. Jangan hanya komentar tentang fisiknya.
Mamak, jangan merasa itu bukan urusanmu. Kalau sistem kekerabatan Minangkabau hanya tinggal cerita, maka yang hilang bukan hanya adat, tapi marwah.
Pemuda, jangan pura-pura suci tapi diam ketika budaya berubah. Jaga pandanganmu. Karena cara laki-laki merespons perempuan ikut membentuk standar di masyarakat.
Kalau hari ini kita resah melihat aurat terbuka, mungkin itu bukan tanda anak-anak kita rusak. Mungkin itu tanda kita yang lalai. Jangan jadikan agama sebagai alat marah. Jadikan ia sebagai jalan membimbing.
Kalau kita ingin generasi yang menjaga diri, maka kita harus lebih dulu hadir, peduli, dan bertanggung jawab. Karena kehormatan perempuan tidak dijaga oleh ceramah. Ia dijaga oleh laki-laki yang sadar perannya.
