SAAT LOKER DISUMBARKOSONG MELOMPONG,BERTAHAN DENGANDULANG PUN DI ANCAM!

PERUT LAPAR TAK BISA MENUNGGU IZIN: KETIKA MENDULANG EMAS DI TANAH SENDIRI DIANGGAP KRIMINAL

Sumatera Barat sedang menghadapi ironi yang menyakitkan. Di satu sisi, lapangan pekerjaan formal makin menyusut, angka pengangguran melesat, dan ruang gerak ekonomi rakyat kecil kian terjepit. Di sisi lain, ketika sejengkal tanah ulayat atau aliran sungai menawarkan sedikit harapan untuk sekadar menyambung hidup, rakyat justru dihadapkan pada moncong senapan dan jeruji besi. Menambang emas secara tradisional atau mendulang kini distempel sebagai aktivitas “ilegal”.

Ini bukan soal keserakahan, ini soal isi piring nasi! Bagi ribuan warga di Solok Selatan, Pasaman Barat, Sijunjung, dan Dharmasraya, mendulang bukan cara untuk menjadi kaya raya, melainkan satu-satunya sekoci penyelamat agar dapur tetap mengepul. Ketika negara gagal menyediakan lapangan kerja yang layak, mengapa rakyat yang berikhtiar bertahan hidup justru dikriminalisasi?

Hukum di negeri ini tampak begitu tangkas dan perkasa ketika berhadapan dengan kain sarung dan sekop para pendulang tradisional. Namun, hukum yang sama mendadak rabun dan tumpul saat berhadapan dengan korporasi raksasa yang mengeruk isi bumi pertiwi secara ilegal dalam skala masif, merusak lingkungan dengan alat berat, lalu membawa kabur hasilnya ke luar negeri. Rakyat sendiri dituduh merusak alam, sementara cukong besar penampung hasil tambang sering kali melenggang bebas tanpa tersentuh.

Kita tidak boleh menutup mata pada kelestarian lingkungan. Namun, penyelesaiannya bukan dengan cara represif dan menangkap rakyat kecil! Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan aparat penegak hukum harus segera bangun dari mati suri. Jangan biarkan regulasi yang berbelit-belit menjadi senjata untuk memiskinkan rakyat.

Jika lapangan pekerjaan tidak ada, dan bertahan hidup dengan keringat sendiri pun diancam penjara, lalu rakyat harus jadi apa? Berhenti memperlakukan kaum pendulang seperti penjahat kakap. Negara harus hadir sebagai pelindung perut rakyat, bukan sebagai mandor yang siap menghukum mereka yang sedang mengais keadilan di atas tanah leluhurnya sendiri! Penuhi hak hidup mereka, atau bersiaplah menghadapi ledakan sosial akibat perut yang lapar!