
Setiap langkah gemetar mereka di atas plat jembatan yang keropos adalah bukti paling otentik bahwa nurani kalian sebagai pemimpin telah lama mati dan membusuk. Di bawah kaki mereka, sungai mengalir deras siap menerkam siapa saja yang jatuh, sementara tangan-tangan mungil itu harus mencengkeram erat pagar karatan yang sudah goyah dimakan usia. Apakah kalian sengaja menunggu satu nyawa lagi hilang hanya demi mendapatkan konten takziah? Apakah kalian sedang menunggu peti mati mungil lewat di depan kantor kalian baru kalian sibuk memesan karangan bunga, membawa rombongan kamera, dan memasang muka paling prihatin sedunia demi citra politik?

Rakyat sudah muak mendengar istilah “gagal lelang”, “kendala prosedur”, atau “proses administratif”. Di mata orang tua yang melepas anaknya bertaruh nyawa setiap pagi, semua itu hanyalah omong kosong birokrasi untuk menutupi ketidakbecusan. Sementara kalian duduk nyaman di kursi empuk ruang ber-AC sambil menikmati fasilitas negara hasil pajak rakyat, anak-anak di Bayang ini harus menahan napas dan mengucap doa setiap kali melangkah di jembatan itu. Apakah kursi kalian begitu nyaman hingga jeritan ketakutan rakyat kecil tidak lagi mampu menembus telinga kalian?

Satu miliar rupiah atau berapa pun anggaran yang tertahan di atas kertas itu tidak akan pernah bisa membeli kembali satu nyawa yang hilang. Kegagalan kalian untuk segera bertindak adalah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Jangan sampai suatu hari nanti kalian datang membawa santunan hanya untuk menebus dosa atas pembiaran yang kalian lakukan hari ini. Rakyat tidak butuh pidato dua menit kalian yang penuh empati palsu di depan wartawan; rakyat butuh kepastian bahwa anak-anak mereka bisa pulang ke rumah dalam keadaan bernyawa.

Hentikan segala atraksi politik dan birokrasi yang memuakkan ini. Perbaiki jembatan itu sekarang juga, atau sejarah akan mencatat kalian sebagai pemimpin yang membiarkan rakyatnya menjemput maut di tengah kemewahan dinas kalian. Ingat, kekuasaan kalian ada batasnya, tapi tanggung jawab atas setiap tetes darah rakyat akan mengejar kalian selamanya. Jika ada satu saja nyawa yang jatuh karena sikap diam kalian, maka sebutan “Seonggok Daging Busuk” adalah predikat paling terhormat yang layak kalian sandang!
Nyawa rakyat adalah harga mati, bukan bahan negosiasi di meja birokrasi!



