YANG BIKIN RESAH ITU BUKAN BIAYA FASILITAS, TAPI HASIL KERJA YANG CUMA KONTEN!

Masyarakat Sumatera Barat tidak pernah alergi terhadap anggaran pemerintah yang digunakan sesuai aturan. Renovasi kantor, rumah dinas, kendaraan operasional, atau fasilitas pendukung pemerintahan selalu ada dari tahun ke tahun. Itu bukan hal baru.

Yang mulai membuat masyarakat bertanya adalah ketika seorang pemimpin lebih sering terlihat di layar ponsel daripada hasil kerjanya terlihat di tengah masyarakat.

Perlu dibedakan antara dokumentasi kegiatan dan pencitraan politik.

Dokumentasi adalah ketika seorang pejabat memperlihatkan pekerjaan yang memang perlu diketahui publik. Misalnya menjelaskan progres pembangunan jalan, memaparkan laporan penggunaan anggaran, menyampaikan hasil rapat penting, atau melaporkan capaian program pemerintah. Fokusnya ada pada pekerjaan dan manfaatnya bagi masyarakat.

Sedangkan pencitraan terjadi ketika kamera justru lebih sibuk mengikuti sosok pejabat daripada menjelaskan substansi pekerjaannya.

Contohnya sederhana.

jika video lebih banyak berisi adegan berjalan lambat, salaman, ekspresi wajah, backsound heroik, sudut kamera sinematik, dan nama pejabat lebih menonjol daripada solusi yang ditawarkan, masyarakat berhak menilai itu sebagai upaya membangun citra.

Jika sebuah video menjelaskan bagaimana seribu warga mendapatkan manfaat dari suatu program, itu informasi publik.

Tapi jika isi video lebih banyak menunjukkan betapa peduli, betapa sederhana, betapa merakyat, dan betapa hebat seorang pejabat, maka yang sedang dijual bukan programnya, melainkan figur politiknya.

Dokumentasi membuat masyarakat memahami kebijakan.

Pencitraan membuat masyarakat mengingat tokohnya.

Dokumentasi berfokus pada hasil.

Pencitraan berfokus pada kesan.

Dokumentasi bisa dilakukan tanpa harus menempatkan pejabat sebagai pusat perhatian.

Pencitraan justru menjadikan pejabat sebagai produk utama yang terus dipromosikan.

Masyarakat Sumatera Barat bukan masyarakat yang baru mengenal politik. Mereka sudah terlalu sering menyaksikan bagaimana media, kamera, dan popularitas digunakan untuk membangun persepsi publik.

Karena itu ukuran masyarakat Minang terhadap pemimpin sebenarnya sederhana. Bukan siapa yang paling sering muncul di beranda media sosial. Bukan siapa yang paling viral. Bukan siapa yang paling banyak membuat konten.

Yang dicari adalah siapa yang paling banyak menyelesaikan masalah.

Jalan yang baik lebih penting daripada video jalan-jalan.

Lapangan kerja lebih penting daripada konten kreator politik.

Kebijakan yang berpihak kepada rakyat lebih penting daripada ribuan tayangan dan jutaan penonton.

Sebab pada akhirnya masyarakat tidak hidup dari konten. Masyarakat hidup dari hasil kerja nyata pemimpinnya.